Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2015

I Never Gone



 “Jika kau menjadi bintang kau tak akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi padaku saat ada cahaya ruang yang  menyelimutiku”
Bukan aku yang menginginkan semua ini , tak pernah terpikir sebelumnya olehku jika aku akan menjadi seperti ini , dan aku tak akan menyadarinya jika bukan kamu yang menyadarkanku. maafkan aku jika aku tak begitu baik untukmu, namun ada yang salah pada dirimu yang membuatku menjadi orang  yang tidak percaya dengan apa yang namanya saling mempercayai, kau telah membohongiku tapi aku tak pernah membencimu . dan ini lah kesalahanku mengapa aku tak pernah bisa membencimu ?
*     *    *
Hari ini aku,  Zee Mays berniat akan pergi ke toko buku untuk membeli buku yang sudah lama ku incar, aku pikir cuaca sangat mendukung . matahari sangat menyengat yang bisa saja membuat kulit ku hitam mendadak , akan tetapi kulitku memang sudah hitam legam , yah ! inilah salah satu yang membuatku tidak pernah mempercayai bahwa itu diriku , jika aku sedang bercermin, senyum ku tiba-tiba saja memudar dan aku akan lupa bagaimana caranya tersenyum untuk beberapa menit kemudian.terdengar alunan lagu the cranberries-when you’re gone menandakan ada sms inbox dari teman kecilku Reinna.
“Zee aku udah ada di depan toko buku nih,kamu kesini yah “
“ ok “

Harapan Hati Yang Hilang




16 Maret 1979
Mom menerima sinyal dari ku, bahwa aku sudah tak sabar ingin pergi dari tempat yang kosong, dingin dan hampa ini. Aku bisa mendengar gerakan panik dan tergesa-gesa serta suara berat seorang lelaki yang  menyemangati, tarikan nafas bisa kurasakan di atas ubun-ubun ku, hentakan kuat yang  bisa aku buat cukup membuat ibu merasakan sakit yang luar bisa. Yang pada akhirnya aku bisa melihat kedua mata , hidung dan sunggingan senyum yang terpampang di lekukan wajah orang  yang sebelumnya tak aku kenal.
17 maret 1996
“Lisa “ terdengar seseorang  memanggilku.
“yah,Mom..” jawabku balas berteriak.
Zedlissa marlberret itu namaku, aku sedang bersiap-siap untuk berangkat kesekolah, mom sudah tak sabar menungguku di lantai bawah memanggilku beberapa kali dengan wajah yang pucat seperti biasanya.aku berlari dengan gesit ke lantai bawah dengan pakaian yang belum rapih , rambut yang awut-awutan , tali sepatu yang terlepas  ditambah dengan perut yang keroncongan .tanpa aba-aba aku mengambil sehelai roti yang sudah di olesi slai strawberry dan PLAK ! piring yang tadi kuraih terjatuh dan pecah.